Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo memberikan predikat Adiwiyata bagi 8 sekolah di Wonosobo yang tersiri dari SD sampai SMP sederajat. Sekolah tersebut yakni SDN 1 Erorejo Wadaslintang, SDN 2 Ngadikusuman Kertek, SDN Gunturmadu Mojotengah, SDN Kejajar, MI Maarif Karangluhur Kertek, MIN Wonosobo. Sementara untuk tingkat SMP sederajat, predikat Adiwiyata diberikan kepada SMPN 2 Wonosobo dan MTs Maarif Sukoharjo.
Penghargaan tersebut diberikan oleh DLH Wonosobo pada Selasa, 25 Februari 2025 dalam acara Peringatan Hari Peduli Sampah 2025 di Gedung Adipura. Kepala DLH, Endang Lisdiyaningsih menyampaikan, sekolah penerima adiwiyata ini sebelumnya diusulkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga Kabupaten Wonosobo untuk kemudian dilakukan penyiapan dan penilaian.
Penelaah Kebijakan Lingkungan Hidup DLH, Mardiahna Caesaria menjelaskan proses penilaian sekolah Adiwiyata memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui oleh sekolah yang ingin mendapatkan penghargaan sebagai sekolah peduli lingkungan. Penghargaan Adiwiyata sendiri terdiri dari empat tingkatan, yaitu tingkat Kabupaten dengan nilai minimal 70, tingkat Provinsi dengan nilai minimal 80, tingkat Nasional dengan nilai minimal 90, dan tingkat Mandiri dengan nilai minimal 95.
Sb_mardiahna
Penilaian tidak hanya berdasarkan niat mereka, tetapi juga berdasarkan implementasi nyata dari gerakan peduli lingkungan. Salah satu indikator utama yang digunakan adalah perubahan perilaku warga sekolah, yang dinilai melalui observasi langsung serta dokumen yang diunggah ke aplikasi Sidi Ajeeng. Sebagai contoh, SD Negeri Kejajar awalnya sampah plastik masih banyak ditemukan, pengelolaan sampah belum optimal. Namun, setelah mendapatkan sosialisasi dari tim penilai dan mengikuti tahapan program Adiwiyata, sekolah mulai menerapkan berbagai perubahan nyata.
Dalam penilaian akhir, terlihat bahwa kantin sekolah telah menghentikan penjualan makanan dalam kemasan plastik. Siswa mulai membawa tumbler sendiri, dan kantin menyediakan gelas minum sebagai pengganti plastik sekali pakai. Selain itu, sekolah berhasil menerapkan pemilahan sampah dan menanamkan kebiasaan peduli lingkungan kepada siswa.
Pemilihan sekolah Adiwiyata juga mempertimbangkan keberlanjutan program ini. Penilaian dilakukan selama lebih dari enam bulan, dengan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa gerakan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar menjadi budaya di sekolah.