Seorang siswa kelas 3 SD di Kertek TA (9) meninggal dunia diduga menjadi korban bulliying. Polisi kini tengah melakukan autopsi guna mencari titik terang penyebab pasti kematian TA.
Kasatreskrim Polres Wonosobo AKP Arif Kristiawan menuturkan, ketika menerima laporan tersebut pihaknya melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam. Hal ini dilakukan guna mendapatkan kejelasan tentang penyebab pasti kematian.
Pembongkaran makam dilakukan pada Kamis, 9 Oktober 2025 di TPU Kelurahan Kertek setelah itu petugas membawanya ke RSUD KRT Setjonegoro untuk diautopsi. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Tim Forensik untuk memperoleh hasil autopsi.
AKP Arif menambahkan, polisi masih mendalami dugaan adanya perundungan dalam kasus tersebut. Pihaknya akan memeriksa tujuh orang saksi dan berharap bisa segera menemukan titik terang kematian TA.
Seperti diketahui, TA meninggal dunia pada Selasa, 7 Oktober 2025 lalu. Kabar tersebut sempat marak diperbincangkan di jagad maya. Ayah TA, Dedi Handi Kusuma (34) menjelaskan, anaknya mengeluh sakit perut setelah dipukul oleh temannya. Pemukulan tersebut terjadi pada saat upacara Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober lalu.
Dedi yang ditemui di kediamannya, Jambusari, Kertek, pada Kamis, 9 Oktober, mengatakan, ia sempat membawa TA ke dokter. Namun karena kondisi semakin memburuk, ia melarikan TA ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. TA sempat mendapatkan perawatan intensif di ICU, hingga ia meninggal pada Selasa malam pukul 22.30 WIB.
Dedi menambahkan, sebelumnya TA pernah menyatakan keinginannya untuk pindah sekolah. Sedangkan soal insiden pemukulan itu, menurut Dedi, TA bercerita ada satu anak yang memukul dan ada pula yang memegangi. TA pun tak tahu alasan kenapa dia mendapat perlakuan tersebut.