Kabupaten Wonosobo menjadi daerah dengan persentase perokok harian tertinggi di Jawa Tengah. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, sebanyak 37,44 persen penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, disusul Kabupaten Temanggung.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, membenarkan data tersebut. Menurutnya, kondisi itu memang sesuai dengan fakta di lapangan. Angka tersebut juga meningkat dibanding Riskesdas 2018 yang mencatat sekitar 36 persen, sedangkan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan prevalensi perokok usia di atas tujuh tahun mencapai sekitar 42 persen.
Jaelan mengatakan tingginya angka perokok dipengaruhi budaya masyarakat sebagai penghasil tembakau, cuaca dingin, serta kebiasaan merokok yang telah berlangsung turun-temurun. Faktor lingkungan juga membuat banyak remaja mulai merokok sejak usia muda.
Ia menegaskan bahwa dampak kesehatan akibat paparan asap rokok pada perokok aktif maupun pasif sama-sama berbahaya. Tingginya prevalensi hipertensi, penyakit jantung, stroke, kanker, hingga kasus stunting, gizi buruk, dan gangguan kesehatan pada ibu hamil di Wonosobo disebut memiliki keterkaitan dengan tingginya paparan asap rokok di lingkungan masyarakat.
Meski harga rokok terus mengalami kenaikan, Jaelan menilai hal tersebut belum cukup efektif menekan angka perokok karena kandungan nikotin bersifat adiktif sehingga menimbulkan ketergantungan dan membuat perokok sulit berhenti. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengendalian paparan asap rokok dengan mengimbau masyarakat yang merokok agar tidak melakukannya di sekitar anak-anak, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya demi melindungi kesehatan masyarakat. (FAZ)