Di tengah turunnya sektor pariwisata dan transportasi, laju inflasi di Kabupaten Wonosobo justru menunjukkan kenaikan pada Oktober 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Wonosobo mencatat inflasi bulanan (month-to-month) mencapai 0,44 persen, melonjak hampir tiga kali lipat dibanding September yang hanya 0,15 persen.
Kepala BPS Wonosobo, Mustaqim, menyebut kenaikan ini disumbang oleh gejolak harga komoditas konsumsi rumah tangga, terutama emas perhiasan dan telur ayam ras. Ia menyebut dua komoditas ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi Oktober, masing-masing 0,17 persen dan 0,10 persen. Hal ini ia sampaikan dalam keterangan resmi pada Senin, 3 November 2025.
Menurut Mustaqim, kenaikan harga emas perhiasan dipicu oleh faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi global dan melemahnya nilai tukar rupiah. Sementara lonjakan harga telur ayam ras lebih disebabkan oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun dan naiknya biaya pakan ternak.
Selain dua komoditas tersebut, cabai merah, daging ayam ras, dan sawi hijau juga turut mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Meski demikian, sejumlah komoditas lain seperti cabai rawit, bawang putih, kol putih, kopi bubuk, dan minyak goreng justru mengalami penurunan harga tipis, sehingga sedikit menahan laju inflasi umum.
Di sisi lain, indikator ekonomi dari sektor jasa dan pariwisata menunjukkan tren sebaliknya. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Wonosobo pada September 2025 hanya 24,59 persen, turun 8,62 poin dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penumpang bus AKAP dan AKDP juga menurun drastis. Penurunan tertinggi terjadi pada penumpang datang bus AKAP yang anjlok hingga 64,73 persen dibanding September 2024.
Kondisi ini menggambarkan bahwa meski aktivitas konsumsi masyarakat tetap tumbuh dan mendorong inflasi, mobilitas dan kunjungan wisatawan justru melemah. (FAZ)