Pemerintah Kabupaten Wonosobo mulai mengarahkan program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) sebagai solusi pengembangan pertanian lahan kering yang lebih modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah, dengan melibatkan ribuan petani di sejumlah kawasan.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat menyampaikan, tantangan sektor pertanian saat ini tidak lagi sebatas peningkatan produksi, tetapi juga mencakup kualitas, keamanan pangan, efisiensi, dan keberlanjutan. Ia menilai, sektor pertanian harus bertransformasi dari pola yang berorientasi produksi menuju pendekatan berbasis nilai agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Afif menjelaskan, kondisi lahan kering di Wonosobo menghadapi berbagai tekanan seperti keterbatasan air, degradasi tanah, serta dampak perubahan iklim. Menurutnya, program HDDAP dinilai relevan karena menyasar persoalan mendasar tersebut. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor, bukan kerja parsial, serta harus berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.
Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sanusi menyampaikan, sektor hortikultura nasional masih menghadapi tantangan seperti rendahnya produktivitas dan daya saing akibat keterbatasan infrastruktur dan teknologi. Ia juga menyoroti potensi lahan kering yang luas namun belum dimanfaatkan optimal, sehingga diperlukan strategi komprehensif yang mencakup peningkatan produksi hingga penguatan hilirisasi dan kelembagaan petani.
Melalui program ini, pengembangan di Wonosobo difokuskan pada komoditas kentang di kawasan Dieng dan salak di Kecamatan Watumalang dengan total luasan sekitar 619 hektare dan melibatkan lebih dari 3.000 petani. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk 2026, mulai dari penyediaan benih, penguatan sarana produksi, hingga pendampingan berbasis teknologi dan standar budidaya, guna meningkatkan produktivitas sekaligus ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.