Kelompok Tani Sindoro Mulyo di Desa Buntu menunjukkan komitmen mengelola lahan pertanian secara produktif tanpa mengabaikan kelestarian hutan lindung di kawasan lereng Gunung Sindoro. Melalui sistem tumpang sari, kelompok ini mampu menghasilkan berbagai komoditas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Wakil Ketua Kelompok Tani Sindoro Mulyo, Nasrudin menjelaskan, pengelolaan lahan dilakukan berdasarkan acuan dari Perhutani karena kawasan tersebut termasuk hutan lindung PHPL. Ia menyebut, kelompoknya mengelola sekitar 20 hektare dari total 40 hektare yang dipercayakan, dengan prinsip jangka panjang agar tidak memicu erosi dan kerusakan lingkungan.
Menurut Nasrudin, sistem tumpang sari yang diterapkan meliputi tanaman hortikultura seperti kentang, wortel, tembakau, dan loncang, yang dipadukan dengan tanaman keras seperti kopi, alpukat, dan terong belanda. Pola ini dinilai mampu menjaga kondisi tanah sekaligus memberi hasil ekonomi yang optimal bagi anggota kelompok tani.
Nasrudin juga menyampaikan harapannya agar pola pengelolaan yang dijalankan kelompoknya dapat memberi kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian alam. Ia menekankan bahwa pengelolaan hutan tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi, melainkan memanfaatkan secara optimal dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem, sehingga lingkungan yang lestari dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Desa Buntu, Suwoto, menilai pola pertanian tersebut sebagai contoh keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian alam. Ia menegaskan, komitmen warga dalam menjaga hutan menjadi kepentingan bersama karena kerusakan lingkungan akan berdampak luas, tidak hanya bagi petani tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.