Hingga 28 November 2025, tercatat 80 kasus ODHIV baru di Wonosobo, dengan sebagian besar kasus terjadi pada kelompok usia produktif. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan dalam acara Seminar Dalam Rangka Hari AIDS Sedunia 2025 di Pendopo Bupati pada Selasa, 2 Desember 2025.
Data menunjukkan bahwa kasus terbanyak ditemukan pada usia 20–24 tahun dan 25–29 tahun yang masing-masing mencatat 15 kasus, serta usia 30–34 tahun dengan 16 kasus. Angka ini menegaskan bahwa HIV masih banyak terjadi pada kelompok muda yang aktif secara sosial dan ekonomi.
Dari sisi faktor risiko, kasus baru didominasi hubungan heteroseksual sebanyak 47 kasus dan homoseksual sebanyak 32 kasus, menunjukkan bahwa penularan HIV tetap terkait erat dengan perilaku berisiko dan rendahnya kesadaran penggunaan layanan pencegahan. Dari sisi pekerjaan, kasus baru banyak berasal dari kelompok wiraswasta, tidak bekerja, dan ibu rumah tangga.
Jaelan menambahkan angka positif HIV menunjukkan penurunan signifikan dari 1,26 persen pada 2017 menjadi 0,38 persen pada 2025. Penurunan ini memberi harapan, namun sekaligus mengingatkan bahwa cakupan pemeriksaan masih perlu diperluas agar semakin banyak masyarakat mengetahui status kesehatannya.
Sementara itu Jaelan menyebut Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan seminar Hari AIDS Sedunia 2025 sebagai langkah strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam penanggulangan HIV/AIDS. Mengusung tema nasional “Bersama Hadapi Perubahan: Jaga Keberlanjutan Layanan HIV”, seminar ini menjadi wadah membahas tantangan sekaligus peluang dalam memperbaiki layanan dan memperluas jangkauan pencegahan HIV di Wonosobo.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, menegaskan bahwa HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan berpotensi menimbulkan persoalan sosial ekonomi.
Sementara itu, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyampaikan bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia harus menjadi ruang evaluasi dan perumusan langkah nyata, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menekankan pentingnya hasil konkret dari pelaksanaan seminar ini. Ia menuturkan bahwa penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan keterlibatan lintas sektor, komunitas, dan masyarakat. (FAZ)