Logo Radio Pesona FM
🎵 Selamat Datang di Website Radio Pesona FM 92.1 MHz 📻 Wonosobo - Jawa Tengah 🎶 Musik, Berita, dan Hiburan Terbaik untuk Anda ✨ Streaming Live Setiap Hari! 🎵 Selamat Datang di Website Radio Pesona FM 92.1 MHz 📻 Wonosobo - Jawa Tengah 🎶 Musik, Berita, dan Hiburan Terbaik untuk Anda ✨ Streaming Live Setiap Hari!

Lewat “Satu Buku Seribu Mimpi”, HIPMI Wonosobo Dorong Literasi di SDN 5 Butuh

Rabu, 04 Maret 2026
Dilihat 21 kali
Lewat “Satu Buku Seribu Mimpi”, HIPMI Wonosobo Dorong Literasi di SDN 5 Butuh

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Wonosobo melalui program “Satu Buku Seribu Mimpi” kembali menggelar kegiatan sosial HIPMI Peduli dengan menyasar dunia pendidikan. Kali ini, kegiatan bertempat di SD Negeri 5 Butuh, Kecamatan Kalikajar.

Ketua Umum HIPMI Wonosobo, Matranto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi literasi anak-anak yang dinilai mulai menurun akibat penggunaan gawai yang berlebihan.

Dalam kegiatan tersebut, HIPMI Wonosobo membagikan sebanyak 600 buku bacaan kepada para siswa. Selain itu, seluruh siswa juga menerima bantuan alat tulis, penberian santunan kepada delapan anak yatim piatu, serta pembagian doorprize untuk menambah semangat dan keceriaan peserta didik.

Matranto menjelaskan, program HIPMI Peduli yang dilaksanakan di lingkungan sekolah baru pertama kali dilakukan dan direncanakan akan berlanjut di sekolah lain. Ia berharap kegiatan ini dapat mendukung upaya pemerintah dan masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di wilayah Kalikajar yang dinilai masih menghadapi tantangan di sektor pendidikan.

Ke depan, program serupa direncanakan akan digelar di SD Negeri 2 Kembaran sebagai bentuk keberlanjutan gerakan literasi HIPMI Peduli.

Kepala SDN 5 Butuh, Uswatun Hasanah, mengaku bersyukur dan senang atas perhatian yang diberikan HIPMI Wonosobo. Ia berharap program “Satu Buku Seribu Mimpi” dapat memotivasi para siswa untuk terus belajar dan berani meraih cita-cita.

Saat ini, SDN 5 Butuh memiliki total 88 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan jumlah paling sedikit di kelas 6 sebanyak 10 siswa. Secara fasilitas, sekolah tersebut tergolong cukup lengkap. Namun demikian, angka putus sekolah masih menjadi tantangan. Pada tahun sebelumnya, dari 12 siswa yang lulus, hanya enam yang melanjutkan ke jenjang berikutnya, sementara sisanya memilih melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. (FAZ)