Kepala Dinas Arpusda, Musofa melanjutkan, era disrupsi merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari dan literasi menjadi pintu terdepan untuk dapat bersikap responsif, memberikan solusi, dan bijak dalam memberikan layanan serta mengambil keputusan. Pihaknya terus membangun gerakan literasi guna menciptakan transformasi perpustakaan sebagai inklusi sosial terbuka bagi seluruh masyarakat khususnya di Wonosobo.
Dalam sambutan Bupati Wonosobo yang disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, menuturkan bahwa derasnya perkembangan teknologi informasi, masyarakat dituntut untuk memiliki pondasi yang kuat agar mampu memilah dan mengikuti arus, namun tidak hanyut dan terombang-ambing di tengah ketidakpastian. Menurutnya hal itu berhubungan erat dengan dunia literasi, yang tidak hanya terbatas pada pemaknaan atas kemampuan baca-tulis, namun juga kemampuan menganalisa dan mengolah informasi, sehingga informasi yang diperoleh dapat dipergunakan bagi kecakapan hidup guna meningkatkan kesejahteraan.
Andang mengungkapkan, melalui Festival Literasi 2.0 yang juga melibatkan partisipasi masyarakat diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk mengakses layanan perpustakaan dan kearsipan di Dinas Arpusda, sehingga akan diikuti implikasi positif meningkatnya kemampuan literasi masyarakat Wonosobo.