Berawal dari kebiasaan mengambil madu liar di ladang, Pak Suwanto akhirnya membuat budidaya Madu Klanceng. Madu Klanceng ialah madu yang berasal dari lebah madu kerdil atau biasa disebut dengan lebah klanceng.
Pak Suwanto ialah petani di Desa Kalimendong, Kecamatan Leksono yang setiap harinya pergi ke ladang. Dulu hampir setiap hari ia mengambil madu liar di ladang untuk dikonsumsi secara pribadi. Setelah rutin mengonsumsi Madu Klenceng, Sarwanto merasa khasiat madu tersebut membuat tubuhnya lebih sehat. Berawal dari situ akhirnya pada tahun 2015 ia mulai membudidayakan Madu Klenceng. Menurut Suwanto, di Desa Kalimendong banyak ditanami Pohon Pinus. Hal ini membuat di daerahnya banyak lebah berkembang.
Selanjutnya Suwanto menceritakan bagaiamana proses budidaya lebah klenceng yang ia lakukan. Awalnya ia menyiapkan sarang tempat pembuat madu yang biasa disebut klutukan. Setelah itu ia akan mencari Ratu Lebah untuk diletakkan di Klutukan. Secara otomatis lebah yang lain atau Suwanto biasa menyebut dengan prajurit lebah, akan mengikuti kemana ratu mereka. Setelah lebah terkumpul dalam Klenceng barulah proses budidaya madu bisa dilakulan. Setelah 6 bulan lamanya barulah Madu Klenceng bisa dipanen.
Untuk proses panen sendiri, Suwanto baru akan panen setelah ada pesanan masuk. Sejauh ini ia belum berani menjual madu ke pengepul sehingga penjualan masih dilakukan secara mandiri. Calon pembeli yang berasal dari Desa Kalimendong dan sekitarnya yang akan datang langsung ke rumah Suwanto.
Suwanto menuturkan untuk harga Madu Klenceng sendiri terbilang stabil. Untuk harga madu dengan ukuran botol sirup 500ml dijual dengan harga Rp400.000, ukuran botol 400ml dijual Rp350.000, sementara untuk ukuran 140ml dijual seharga Rp 140.000. (FAZ)