PLTMH Mergosari Jadi Penggerak Ekonomi Sektor Pertanian hingga Pariwisata
Aliran Sungai Serayu di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo, berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan energi tersebut menjadi bagian utama konsep Serayu Agro Energy Edu-Tourism Corridor (SAEEC) yang diarahkan untuk menggerakkan pertanian, pengolahan hasil panen, pengelolaan sampah hingga pariwisata.
Kepala Bappeda Kabupaten Wonosobo Tono Prihatono mengatakan ketersediaan energi murah dapat membantu menekan biaya produksi pertanian masyarakat. Karena itu, energi ditempatkan sebagai pintu masuk dalam pengembangan SAEEC, sehingga listrik yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi desa.
Dalam rancangan SAEEC, PLTMH berbasis teknologi vortex direncanakan sebagai sumber energi mandiri tanpa emisi. Energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk fasilitas pascapanen seperti cold storage, mesin pengering dan rice mill, sekaligus mendukung penerapan smart farming dan teknologi Internet of Things.
Berdasarkan simulasi dalam materi SAEEC, aliran air sebesar 1,5 meter kubik per detik diproyeksikan menghasilkan sekitar 2.808 kilowatt-jam energi per hari. Dengan tarif dasar listrik yang digunakan dalam materi tersebut, nilai energinya diperkirakan mencapai sekitar 4,07 juta rupiah per hari atau sekitar 1,4 miliar rupiah dalam setahun. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan tingkat efektivitas pembangkit sebesar 80 persen.
Koordinator Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas Taufik Hanafi menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan energi terbarukan di Mergosari. Dalam konsep SAEEC, BUMDes, Pokdarwis dan koperasi diarahkan menjadi bagian dari pengelolaan operasional PLTMH dan kegiatan ekonomi terkait, sehingga energi bersih dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus mendukung pemulihan ekosistem Sungai Serayu.