Prosesi Topo Bisu dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke 198 berlangsung dengan khidmat pada Minggu malam 23 Juli 2023. Tapa Bisu memiliki makna untuk melakukan introspeksi diri selama satu tahun terakhir dan obor menjadi simbol harapan.
Hal itu diungkapkan oleh Budayawan Wonosobo, Tatag Taufani ketika dijumpai sesaat setelah prosesi Topo Bisu. Ia menjelaskan, sekitar 40 warga dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto mengikuti prosesi ini, sabagian membawa obor dan sebagian membawa kendi berisi air dan tempat berisi tanah. Mereka berjalan menyusuri Jalan Ahmad Yani, tepatnya dari Taman Plaza menuju pendopo Bupati Wonosobo. Suasana semakin khidmat semakin terasa setelah lampu penerangan jalan, rumah dan pertokoan sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Alun-alun Wonosobo dipadamkan.
Tatag mengungkapkan, dalam prosesi Topo Bisu itu tidak diperkenankan berbicara selama perjalanan. Hanya berdoa dalam hati memohon keselamatan sambil membawa obor. Menurutnya, suasana yang gelap dan hening dimaknai untuk melakukan introspeksi diri, sedangkan obor menjadi sumber cahaya yang dimaknai sebagai harapan baru.
Sb : tatag
Menurutnya, Air dan tanah yang dibawa dari Desa Plobangan Kecamatan Selomerto ini kemudian diserahkan kepada Bupati Wonosobo di Pendopo Bupati Wonosobo. Ia menambahkan, selain obor, mereka juga membawa air suci dari Tuk Sampang dan tanah dari makam Ki Ageng Wonosobo di Desa Plobangan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai simbol perpindahan ibukota yang dulunya berada di Desa Plobangan kemudian pindah ke pusat kota Wonosobo saat ini.
Sementara itu, Kelapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wonosobo Agus Wibowo menyampaikan, air dari Desa Plobangan kemudian disatukan dengan air dari 6 mata air lain di Wonosobo. Kemudian air tersebut akan disiramkan ke 4 arah mata angin di Alun-alun Wonosobo.