Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama Universitas Diponegoro kembali melanjutkan kerja sama pengembangan energi terbarukan melalui kegiatan pengabdian internasional bertema perancangan glamping berbasis picohydro. Kegiatan yang digelar 12–13 Mei 2026 itu melibatkan akademisi dari Belanda dan Malaysia serta sejumlah OPD di Wonosobo untuk membahas pemanfaatan energi air skala kecil sebagai sumber listrik ramah lingkungan.
Program tersebut dilatarbelakangi meningkatnya kebutuhan listrik masyarakat dan pentingnya pengembangan energi berkelanjutan di wilayah pedesaan. Dalam kegiatan itu disebutkan, teknologi picohydro dinilai cocok diterapkan di kawasan wisata karena memiliki biaya operasional rendah, konstruksi sederhana, serta dampak lingkungan yang minim dibanding pembangkit konvensional.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo Nurudin Ardiyanto menyampaikan, pengembangan picohydro bukan hanya soal penyediaan energi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kawasan hulu secara berkelanjutan. Ia menjelaskan, Wonosobo memiliki posisi strategis sebagai daerah tangkapan air dengan potensi energi air kecil yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan, air, dan energi masyarakat.
Kerja sama lanjutan antara Pemkab Wonosobo dan UNDIP itu juga diarahkan untuk membangun model kawasan edukasi energi bersih yang dapat direplikasi di daerah lain. Dalam agenda kegiatan, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke Desa Mlandi dan area glamping sebagai bagian dari pengembangan laboratorium alam berbasis energi terbarukan.
Selain merancang pra desain kawasan glamping, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Edukasi dilakukan melalui pendekatan partisipatif agar masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi turut terlibat dalam pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat.