Logo Radio Pesona FM
🎵 Selamat Datang di Website Radio Pesona FM 92.1 MHz 📻 Wonosobo - Jawa Tengah 🎶 Musik, Berita, dan Hiburan Terbaik untuk Anda ✨ Streaming Live Setiap Hari! 🎵 Selamat Datang di Website Radio Pesona FM 92.1 MHz 📻 Wonosobo - Jawa Tengah 🎶 Musik, Berita, dan Hiburan Terbaik untuk Anda ✨ Streaming Live Setiap Hari!

WONOSOBO DINILAI BISA JADI PERCONTOHAN DALAM PENURUNAN STUNTING

Selasa, 23 Mei 2023
Dilihat 1 kali
WONOSOBO DINILAI BISA JADI PERCONTOHAN DALAM PENURUNAN STUNTING

Kabupaten Wonosobo dinilai potensial menjadi percontohan dalam penurunan stunting di daerah. Pada tahun 2021 angka prevalensi stunting di Wonosobo mencapai 28,1 persen, dan kini menurun 22,7 persen. Bidan juga dipandang memiliki peran strategis dalam penurunan stunting.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam kegiatan Program Edukasi dan Intervensi Stunting, pada Minggu 21 Mei 2023. Agenda tersebut merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan Badan Kependudukan Berencana Nasional (BKKBN), Dexa Group, Polri dalam upaya menekan angka stunting.

Pada kesempatan tersebut Hasto Wardoyo memandang Wonosobo bisa menjadi best practice potensial dalam penurunan stunting di daerah. Hal ini diperlihatkan dari penurunan stunting yang mencapai 5,4 persen dan angkanya jauh di atas angka nasional yang hanya 2,8 persen.

Lebih dari itu Hasto juga memandang bidan memiliki peran strategis dalam upaya intervensi stunting. Para bidan dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat di desa, dia berhadap para bidan bisa turut mengawal sejak dari mulai calon pengantin, pengantin, hamil, kontrol kehamilan hingga 1000 hari pertama kehidupan.

Pada saat yang sama, Bupati Afif Nurhidayat menyatakan dia tak menampik bahwa pernikahan dini masih cukup tinggi. Dia menekankan, hal ini merupakan salah satu faktor stunting. Kendati demikian, Bupati menyatakan akan totalitas dalam menyelesaikan stunting. Dengan adanya kolaborasi dari berbagai pihak tersebut, diharapkan bisa memompa semangat pemkab untuk menangani stunting. Sebab bila tak diatasi akan mengancam kualitas sumber daya manusia. (PLG)